Resesi Seks Buat Pening, China Minta Emak-Emak Genjot Lahiran

 

President of China Xi Jinping delivers opening remarks from their meeting with South African President Cyril Ramaphosa (unseen) after being bestowed with the Order of South Africa at the Union Buildings in Pretoria on August 22, 2023. (Photo by PHILL MAGAKOE / AFP) Foto: Presiden China Xi Jinping (AFP/PHILL MAGAKOE)

Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden China Xi Jinping memberikan sebuah pesan bagi ibu di negara itu agar terus melahirkan dan membesarkan anak-anaknya. Ini terjadi saat China mengalami rendahnya angka kelahiran yang disebabkan kultur kaum hawa yang ikut bekerja.

Berbicara pada Kongres Perempuan Nasional, Xi menegaskan adanya perubahan dalam pemikiran pemerintah tentang peran perempuan dalam masyarakat.⁠ Ia juga membicarakan soal kesuburan perempuan China.

“Kita harus secara aktif memupuk budaya pernikahan model baru dan melahirkan anak,” paparnya dalam acara lima tahunan itu dikutip The Economist, Selasa (14/11/2023).

“Saya mendorong para delegasi untuk menceritakan kisah-kisah baik tentang tradisi (ber)keluarga.”

Hal ini sesuai dengan pandangan konservatifnya terhadap masyarakat. Di masa lalu, Xi telah berbicara tentang pentingnya “istri dan ibu yang baik” dan mempromosikan norma-norma sosial patriarki.

China sendiri saat ini membutuhkan perempuan untuk memiliki lebih banyak penduduk guna membalikkan penurunan demografi yang mungkin menghambat pertumbuhan ekonomi. Untuk pertama kalinya sejak tahun 1960an, populasi negara tersebut mulai menyusut pada tahun lalu.

Di tahun 2022, China melaporkan 9,56 juta kelahiran. Ini merupakan angka terendah sejak pencatatan dimulai pada tahun 1949, dan turun 10% dari tahun 2021

Pemerintah berupaya keras untuk membalikkan tren ini. Pada tahun 2016, pemerintah membatalkan kebijakan yang telah berlaku puluhan tahun yang membatasi sebagian besar pasangan hanya memiliki satu anak. Pada tahun 2021, negara ini mengadopsi kebijakan tiga anak untuk setiap pasangan.

Namun generasi muda masih enggan menikah dan bereproduksi. Semakin banyak perempuan yang menentang norma gender dan memilih gaya hidup mandiri. Banyak anak muda lainnya, baik laki-laki maupun perempuan, yang masih berjuang untuk mendapatkan pekerjaan, alih-alih membeli rumah dan memulai sebuah keluarga.

Insentif untuk memiliki anak, seperti pemberian uang tunai dan keringanan pajak, telah gagal meyakinkan pasangan bahwa lebih banyak anak sepadan dengan biaya yang harus dikeluarkan. Jumlah rata-rata kelahiran per perempuan jauh di bawah jumlah yang diperlukan untuk mempertahankan populasi.

Meski begitu, langkah ini menimbulkan bumerang dalam hal kesetaraan gender di negara itu. Indeks Kesenjangan Gender Global terbaru dari Forum Ekonomi Dunia (WEF), yang mengukur kemajuan menuju kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, menempatkan China pada peringkat 107 dari 146 negara.

Pada tahun 2012, negara ini menduduki peringkat ke-69 dari 135. Skor China mengalami penurunan dalam beberapa bidang, seperti pencapaian pendidikan, pemberdayaan politik, dan kesehatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*