Dutch Disease, Penyakit Ekonomi Ngeri yang Dulu Hampir Serang RI

Jakarta, CNBC Indonesia – Belakangan istilah Dutch Disease atau penyakit Belanda kembali diperbincangkan usai pemerintah menyebut Indonesia sudah terkena penyakit ekonomi tersebut. Hal ini disampaikan langsung oleh Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas Amalia Adininggar Widyasanti.

“Kita terlena dengan biasa yang disebut Dutch disease, sehingga kemudian terjadilah deindustrialisasi dini,” kata Amalia dalam acara Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia 2023 yang digelar Bank Indonesia di Jakarta, Rabu (31/1/2024).

Perlu diketahui, istilah Dutch Disease pertama kali dicetuskan oleh The Economist pada 1977 untuk menggambarkan situasi ekonomi Belanda yang terjadi anomali.

Anomali ini dapat ditarik mundur ke tahun 1959. Kala itu, Belanda berhasil menemukan cadangan gas terbesar di Eropa yang membuatnya masif melakukan eksplorasi dan ekspor besar-besaran.

Tentu selama proses ini Belanda mendapat keuntungan luar biasa, terlebih saat dekade 1970-an. Namun, di balik itu semua, ada malapetaka yang terjadi. Masifnya ekspor membuat mata uang Belanda, Gulden, menguat. 

Penguatan ini perlahan membuat sektor manufaktur melemah yang berujung banyaknya industri bangkrut, sehingga terjadi deindustrialisasi.

Beranjak dari fenomena iniThe Economist melahirkan istilah Dutch Disease yang secara terminologi disebut sebagai pelemahan sektor ekonomi tertentu, salah satunya manufaktur, imbas booming sektor ekonomi lain yang biasanya berasal dari sumber daya alam atau produksi tanaman komoditas. 

Penyakit ini juga pernah hampir menyerang Indonesia di dekade 1970-an atau saat terjadi booming minyak. Saat itu sudah ada tanda-tanda khas Dutch Disease, yang menurut Boediono dalam Ekonomi Indonesia dalam Lintasan Sejarah (2016), terlihat jelas dari komposisi PDB dan ekspor. 

Namun, Menteri Ekonomi Ali Wardhana akhirnya berhasil membuat Indonesia terhindar dari penyakit itu.  Anwar Nasution dalam A Tribute to Ali Wardhana (2015) menyebut, caranya dengan mengalihkan keuntungan hasil ekspor minyak untuk membangun sektor pertanian, perbaikan infrastruktur, pembangunan sekolah dan fasilitas kesehatan, serta untuk program kesejahteraan lain. 

Intinya, Van Zanden dan Marks dalam Ekonomi Indonesia 1800-2010 (2012) menyebut, Indonesia saat itu tidak mengalihkan dana hasil ekspor minyak untuk proyek industri besar. Alhasil, Indonesia pun bisa lolos dari Dutch Disease. Malah, di tahun 1980-an, Indonesia bisa mencapai swasembada beras akibat perbaikan sektor pertanian. https://darsalas.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*